seni DayakanPURBALINGGA – Dayakan, seni pertunjukkan rakyat di Desa Wisata Panusupan, Kecamatan Rembang, ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Jika dicermati sepintas, seni ini topeng ireng yang disuguhkan di desa-desa lereng Gunung Merapi – Merbabu. Bedanya, Dayakan dibawakan oleh anak-anak dan asesoris yang dipakaipun cenderung alami.

            Wajah anak-anak yang akan menari dayakan, digambari menggunakan arang. Tampilan wajahnyapun seperti mirip orang alas (dari hutan). Tubuh penari diberi asesoris dengan dedaunan rumputan dan janur kuning. Rumput yang dipakaipun tidak sembarangan yakni rumput Kapulata. Sedang tetabuan berupa kentongan, gong, dan ember.

“Tarian rakyat Dayakan merupakan turun temurun dari nenek moyang, hanya saja sudah lama tidak ditampilkan. Disebut Dayak, karena konon masyarakat disini dulu berasal dari alas (hutan),” tutur Suparno, Koordinator tari Dayakan.

            Tarian Dayakan itu disuguhkan saat peresmian wahana wisata baru ‘Wana Tirta’ di Desa Wisata Panusupan, Kecamatan Rembang, Selasa (10/2). Peresmian dilakukan oleh Bupati Sukento Rido Marhaendrianto.

            Dikatakan Suparno, rumput yang dipakai berupa rumput Kapulata. Pemakaian rumput ini mengandung makna kelak kehidupan orang-orang didesa bisa tertata. Semua kehidupannya teratur dan tertata dengan baik. Kemudian rumput Japakrias yang mengandung makna dengan digelarnya tarian ini maka semua sawan atau penyakit bisa hilang. Sedang janur berwarna kuning bermakna sejane ning nur (arah menggapai cahaya Ilahi), dan warna kuning bermakna sabda dadi, (yang dihasilkan dari hati/jiwa yang bening).

“Janur kuning disini member makna makna, arah menggapai cahaya Ilahi yang dihasilkan dari hati/jiwa yang bening. Janur kuning mengisyaratkan Cita-cita mulia lagi nan tinggi untuk mencapai cahaya (nur)-Nya dengan dibarengi hati yang jernih,”  jelas Suparno.

            Selain Dayakan, dalam peresmian wahana wisata dan sekaligus ulang tahun Desa Panusupan ke 55 itu, juga ditampilkan suguhan seni kotekan lesung, tari kuda lumping, dan tektek. Pengunjung wisata di desa itu juga disuguhi makanan tradisional seperti lemet, cimplung, ondol ketela, sedang jamuan makan besar berupa nasi jagung, buntil daun talas, keripik daun Keji, kluban daun ketela dan sejumlah makanan tradisional lainnya.

            Kepala Desa Panusupan Imam Yulianto mengatakan, desa wisata Panusupan menyuguhkan potensi wisata religi, seni budaya yang dipadu dengan keindahan alam. Selain makam Syeh Jambu Karang atau yang dikenal dengan makam Ardi Lawet, di Panusupan juga terdapat berbagai situs purbakala peninggalan para wali serta Syech yang masih utuh. “Keindahan alam yang ada di Panusupan selain hamparan ngarai yang indah dan sejuk dipandang juga terdapat air terjun wana tirta,” kata Imam Yulianto.

            Bagi wisatawan yang datang, akan dipandu oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ardi Mandala Giri. “Wisatawan yang datang bisa menikmati suasana desa yang asri, sejuk dan jauh dari kebisingan kota,” ujar Imam Yulianto berpromosi.

            Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto menyatakan, kemajuan desa wisata akan berdampak pada sisi ekonomi warga masyarakat. Jika wisatawan banyak yang berdatangan, maka secara otomatis akan menggerakan ekonomi warga. Wisatawan yang datang butuh makan, ingin membawa oleh-oleh souvenir dan ingin menikmati suasana desa. Jika menginap, maka butuh homestay. “Ini potensi yang baik untuk digarap agar bisa mendatangkan wisatawan,” ujar Sukento.

            Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Subeno mengatakan, pihaknya mendukung penuh kegiatan pengembangan desa wisata agar benar-benar laku jual dan menjadi daya tarik wisatawan. Dukungan penuh itu diwujudkan dengan menempatkan tenaga fasilitator  di empat desa potensial, termasuk Desa Panusupan, Kecamatan Rembang. “Fasilitator ini akan mendampingi Pokdarwis dan warga setempat dalam menyiapkan paket wisata, melakukan pemasaran hingga siap menerima kunjungan wisatawan,” kata Subeno. (y)